Entry: Satu Pelajaran dari KIAMAT SUDAH DEKAT Monday, January 01, 2007



Kita sudah terbiasa dengan sinetron, yang antara judul dengan cerita yang bergulir tidak nyambung, cerita yang dipanjang-panjangi dan merambat sana-sini, sehingga lari begitu jauh dari tema asli, menyebalkan, tidak masuk akal, serta sama sekali tidak mengandung pelajaran. Tapi, lain dengan AKiamat Sudah Dekat' Semua elemen sinetron yang menyebalkan tadi tidak kita temukan dalam sinetron ini. Pada Ramadhan 1425 H (2004) lalu, penonton televisi di tanah air memilih Bajaj Bajuri sebagai sinetron paling favorit dan paling dinantikan. Tapi pada Ramadhan 1426 H kemarin sebuah survey pada akhir Oktober lalu meneyebutkan sinetron Kiamat Sudah Dekat (KSD) mampu menggeser dominasi Bajaj Bajuri. Bahkan, sinetron yang belum berakhir ceritanya hingga awal Desember ini, masih menempati rating tertinggi. Ini bisadilihatdari slot iklan yang jauh melebihi tayangan apa pun di SCTV, stasiun tv yang menyiarkan sinetron ini. Sinetron KSD karya Dedi Mizwar ini, sebenarnya hanya "memperpanjang" cerita dan tema yang sama sebuah film layar lebar dengan judul yang sama pula. Film itu juga laris manis. Bahkan SCTV perlu berulang kali memutar film tersebut, terutama pada hari-hari raya. Sebelum sinetron KSD disiarkan, masya-rakat sudah terbiasa dengan sinetron religi (Islami) yang dengan gampang memvisuali-sasikan jin, setan bahkan siksaan pasca kematian. Para pembuat sinetron itu, dengan tega memfitnah orang yang sudah tak bisa lagi menyampaikan argumentasinya. Layak-nya para pembuat sinetron itu sudah melebihi kuasa Allah, yang bias memberi vonis orang yang selama hidupnya pernah bermaksiat, akan diazab seperti itu. Banyak faktor yang membuat sinetron KSD dinantikan banyak orang, tak terkecuali anak-anak. KSD adalah sinetron religius yang disiarkan bertepatan dengan bulan suci Ramadhan. Waktu yang dipilih juga tepat, pukul 21.00, saat masyarakat selesai bertaraweh. Tema dan jalan ceritanya sangat bersentuhan dengan kehidupan (beragama) kita sehari-hari, sekaligus mengkritisi sikap keberagamaan kita. Itu pula sebabnya, sehingga keluarga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tercatat sebagai penggemar sinetron ini. Karena saking gandrungnya, SBY perlu mengundang secara pribadi para kru dan pendukung sinetron ini bertandang ke rumah pribadinya pada bulan puasa lalu. Kita sebenarnya bisa mengambil pelajaran dari sikap SBY ini, bahwa dengan "mendukung" KSD, secara tidak langsung SBY "menolak" sinetron-sinteron religius versi kuburan, setan, jin dan hantu. Latar masyarakat yang dipilih adalah komunitas Betawi di pinggiran Jakarta. Seperti yang kita tahu, selama ini sinetron dengan latar masyarakat Betawi paling laris. Terlepas dari itu semua, KSD cukup mendakwahi kita. Haji Romli, babenya Sarah adalah tipe orang tua Batawi, yang mungkin saja sama seperti babe-babe kita. Ia mendidik anak perempuan semata wayangnya agar berhijabah, tekun belajar dan berbakti, jangan genit. Haji Romli juga mendambakan agar anaknya bersuamikan pemuda santri, kalau bisa lulusan Mesir (Universitas Al Azhar). Karena menurutnya, lulusan Mesir adalah puncak dari pencarian ilmu agama seseorang. Lulusan Mesir sudah pasti pandai agama dalam segala hal. Pokoknya, Islam-nya top bangat. Bisa jadi, sikap ini juga dianut oleh babe-babe kita. Dan, pemuda yang senang bercelana jins, gondrong, memakai anting, suka musik rock adalah pemuda begajulan. Pokoknya, Islamnya meragukan. Satu hal dari Haji Romli yang mungkin jarang dimiliki oleh babe-babe kita. Ia tetap membaca sampai usia tua. Ia juga mau menolong orang tanpa melihat latar belakang suku dan agamanya. Ada ustadz Basir. Sosok guru tua ini mengingatkan kita pada guru-guru kita. Ia mengajari teman-teman Fandi - pemuda calon suami Sarah - membaca Quran. Sebelum memulai pelajaran mengaji, opininya terhadap anak-anak band itu adalah orang yang miskin hidayah alias tidak beriman. Ia memang mengajari teman-teman Fandi membaca Quran, namun caranya seperti apa yang pernah diajarkan gurunya dahulu. Ia begitu yakin kalau pengajarannya adalah yang terbaik. Meski begitu, tak satu pun murid-murinya bisa membaca Quran. Lalu, ia salahkan murid-murinya, bahwa mereka bodoh. Ia juga melarang keras murid-murid memprotes caranya mengajar. la punya ancaman pamungkas : melawan guru adalah kualat sedangkan menuruti apa kata guru adalah sumber keberkahan. Ustadz Basir lupa, atau memang pura-pura lupa, bahwa Nabi pernah berkata, hanya Allah dan orang tua yang menjadi sumber keberkahan dan sumber kualat. Ustadz Basir memang pandai membaca Quran, tapi ia sesungguhnya tidak bisa mengajari orang lain membaca Quran. Hal ini juga memberi makna, bahwa (umpamanya) orang yang bisa ilmu nahwu belum tentu bisa mengajarkannya. Orang yang fasih berbahasa Arab belum tentu bisa mengajari orang agar fasih seperti dia. Lalu, ketika sang murid tidak bisa menguasai ilmu yang diajari, sang guru lalu memvonis muridnya bodoh. Ustadz Basir, dan juga guru-guru kita tidak sadar, bahwa ketidakberhasilannya mengajari murid dalam menguasai sebuah ilmu, adalah masalah metodologi. Memang pandai dalam sebuah ilmu penting, namun metologi pengajaran jauh lebih penting, apalagi kalau ia seorang guru. Ustadz Basir, ketika mengajari agama pada keluarga Fandi yang awam agama itu, memulainya dengan bab thaharah, sebuah bab paling awal dalam pelajaran fiqih. Ketika orang tua Fandi meminta ustadz Basir menjawab kebutuhan agama yang paling urgen yang dihadapi keluarga itu, ia ngotot harus memulai dari thaharah. Padahal, yang dibutuhkan keluarga gedongan itu adalah masalah implementasi ibadah dalam kehidupan sosial. Orang tua Fandi menyodorkan masalah, banyak orang shalat tapi kehidupan sosialnya bermasalah. Sayangnya, ustadz Basir tidak mampu memberi jawaban yang memuaskan, bahkan ia kembali memainkan jurus pamungkas : jangan banyak bertanya, ikuti saja apa katanya sebagai guru. Ustadz Basir tidak sadar, bahwa yang dibutuhkan keluarga modern itu adalah masalah akhlak. Mampukah ibadah seseorang mempengaruhi akhlaknya? Dalam kehidupan sehari-hari, orang tua Fandi melihat banyak orang yang berpredikat santri, berbaju koko, peci selalu di kepala, sorban selalu melilit badannya, tapi dalam mencari nafkah selalu menafikan akhlak. Ustadz Basir akhirnya gagal menanam-kan kesadaran beragama dalam keluarga Fandi, karena ia lebih mementingkan doktrin dari pada menanamkan kesadaran. Ia juga lupa, bahwa mengajarkan akhlak jauh lebih penting daripada mengajarkan fiqih. Lain halnya dengan ustadz kedua yang mengajari keluarga Fandi. Ustadz muda ini berhasil, karena ia mengutamakan akhlak. Sedangkan tentang shalat dan sebagainya, yang masih dalam koridor fiqih dipelajari sendiri oleh keluarga Fandi. Itu karena mereka punya kemampuan untuk belajar lebih baik. Dalam sinetron KSD, ada tokoh bernama Farid. Seorang mahasiswa yang sedang mengejar gelar master di Al Azhar, Mesir. Orang tuanya begitu membanggakannya. Mereka yakin, kalau Farid yang sudah bergelar Lc (licence) atau setara S1 itu, pasti punya akhlak yang sempurna. Mereka juga yakin, selama di Mesir Farid tidak pernah pacaran atau bersenang-senang. Pokoknya ia tekun belajar. Padahal, apa yang dilakukan Farid di sana tak jauh berbeda dengan sebagian mahasiswa di tanah air. Orang tua Farid tidak sadar, bahwa Mesir itu sudah mengalami westernisasi ketika Indonesia masih terjajah. Di Mesir, setiap mahasiswa bisa saja begajulan, walaupun kesempatan menjadi ulama yang berilmu seperti lautan jauh lebih terbuka daripada di tanah air. Sayangnya, Farid begitu mengecewa-kan. Akhlaknya tidak sebaik gelar Lc yang ada di belakang namanya. Setiap kali berhadapan dengan Fandi, ia selalu membusungkan dadanya dan tersenyum sinis, sebuah akhlak yang tidak terpuji. Dalam memikat hati Sarah, Farid juga memainkan jurus yang tidak obyektif. Akhir cerita, Fandi yang dipilih Haji Romli sebagai menantunya. Itu karena ia lebih menguasai 'ilmu ikhlas'. Ilmu ikhlas ini, sesungguhnya sebuah kesadaran yang berangkat dari akhlak seseorang, bahwa Allah dan rasulNya jauh lebih penting dari semua yang berbau keduniaan. Sebuah kesadaran yang belum tentu dimiliki oleh orang yang berpredikat alumni Al Azhar, seperti tokoh Farid.

   0 comments

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments