Entry: Tujuh Golongan Ternaungi Thursday, February 15, 2007



"Ada tujuh golongan Allah beri naungan kepada mereka. Takkala itu tiada naungan kecuali naungan-Nya. Merekalah :

Pemimpin yang adil.

Pemuda yang taat beribadah.

Seseorang yang hatinya tertaut pada masjid.

Dua orang yang saling mencintai karena Allah.

Hamba yang ingat pada Allah ketika sendiri, lalu ia meneteskan air mata karena-Nya.

Seseorang yang merahasiakan sedekahnya, hingga tangan kirinya tak tau sedekah tangan kanan.

Seorang yang dirayu wanita cantik untuk berzina, lalu ia berkata, "Saya takut pada Allah."

Al-Hadits dari Abu Hurairah

Pada hari akhirat kelak, di Padang Mahsyar umat manusia akan dikumpulkan dalam satu area. Seluruh manusia dari jaman Nabi Adam hingga dunia kiamat. Pada hari itu udara sangat panas. Ada yang menggambarkan di Padang Mahsyar matahari sangat dekat sehingga sangat panas dan gerah. Di saat semua orang kepanasan ada awan berarak yang menaungi beberapa golongan. Dengan awan tersebut orang yang dinaungi di bawahnya menjadi sejuk, sementara yang lainnya kepanasan.
Siapakah golongan eksklusif itu?
Yang pertama adalah pemimpin yang adil. Mengapa pemimpin masuk dalam nanungan? Bukankah banyak pemimpin yang menindas rakyat, zalim dan korup? Kekuasaan, terutama pemimpinnya, cenderung untuk berbuat korupsi. Kekuasaan yang besar akan korupsi dengan besar juga. Demikian peribahasa berbunyi karena saking banyaknya pemimpin yang zhalim. Memang pemimpin yang baik dan adil itu sedikit. Dan yang sedikit itu karena kekhususannya akan diberi ganjalan yang setimpal dengan keadilannya, yaitu diberikan naungan awan nan sejuk di saat yang lain kepanasan.
Bagi seorang pemimpin, sangatlah mudah ia akan menjadi adil atau zhalim. Sama mudahnya dengan dia ingin berteduh di bawah awan yang menaunginya atau tetap berpanas-panas di bawah matahari yang terik. Namun saat ini kita melihat, seberapa banyak pemimpin yang adil?
Kedua adalah seorang pemuda yang dia giat melakukan ibadah sepanjang waktu. Golongan kaum ini juga eksklusif. Sebab di saat banyak orang seperti dia memanfaatkan waktu untuk hal-hal yang tidak berguna dan cuma untuk kesenangan sesaat, dia justru tekun beribadah. Seorang pemuda kota yang di saat teman-temannya di malam minggu berkeliaran mengendarai motor atau mobil, dia berdzikir di masjid. Teman-temannya pada dugem(dunia gemerlap) atau mendatangi teman wanitanya untuk bergembira dan bersuka ria, dia juka bersuka ria mendatangi majelis taklim untuk menimba ilmu dan berkumpul dengan orang saleh.
Pemuda seperti ini memang beda. Meskipun usianya muda, ia tidak pernah berpikiran bahwa hidupnya masih lama. "Ah, malaikat pasti akan mencabut nyawa kakek dulu, baru ayah ibu, kemudian kakak-kakak, baru aku." Begitu kira-kira jalan pikiran pemuda yang hidupnya berhura-hura. Dengan selorohnya mereka bersemboyan, "Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga." Kalau ada anak muda yang demikian, patut kita bilang kepadanya, "Surganya mbahmu!" Namun tidak demikian dengan pemuda calon penghuni surga yang akan dinaungi awan keteduhan. Ia berpedoman dengan hadits Nabi SAW,
"Berusahalah seakan-akan engkau akan hidup seribu tahun, beribadahlah seakan-akan engkau akan mati besok"

Memang pemuda seperti ini pantas mendapatkan naungan awan di saat yang lain kepanasan.


Ketiga adalah seseorang yang hatinya tertaut pada masjid. Siapa pun dia, orang seperti ini hatinya seperti besi yang menempel pada magnet masjid. Hal yang paling disukai adalah menunggu waktu datangnya shalat. Jadi sebelum azan dia sudah datang, melakukan shalat tahiyatul masjid dua rakaat dan berdzikir menunggu muazin mengumandangkan azan. Kehadirannya dalam shalat berjamah d masjid selalu awal, tidak pernah ketinggalan atau masbuk. Di waktu senggangnya ia lebih suka berada di masjid. Di saat malam minggu orang pada keluar rumah untuk bersuka ria, ia lebih suka membaca buku agama di masjid. Atau berdiskusi masalah keagamaan di masjid kalau memang tidak ada pengajian di malam itu. Iktikaf di masjid lebih ia sukai daripada tempat mana pun.

Tidak sekedar itu, ia juga aktif dalam memakmurkan masjid. Seorang pemuda yang hatinya tertaut pada seorang wanita tentu ingin menyenangkan hati wanita tersebut. Demikian juga seseorang yang hatinya tertaut pada masjid, pasti ingin "menyenangkan" masjid itu, dengan cara sering mendatangi dan memakmurkannya. Berbagai kegiaan dakwah dan syiar Islam ia adakan dan aktif di dalamnya. Orang seperti ini memang layak mendapatkan naungan Allah pada saat yang lain tidak mendapatkannya.


To be continued ......:)

   1 comments

anto
September 1, 2009   02:41 PM PDT
 
kelanjutannya mana??? ditunggu loh

Leave a Comment:

Name


Homepage (optional)


Comments